Home » Apa Hukum Membaca Al-Qur’an Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal

Apa Hukum Membaca Al-Qur’an Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal

Artikel Terkait

Mbayuli.Com – Hallo sobat ketemu lagi ya di mbayuli.com gimana kalian sehat kan jangan sakit-sakit ya sakit itu gak enak tahu hehe, ok artikel kali ini yaitu apa hukum membaca al quran terhadap orang yang sudah meninggal, silahkan simak penjelasannya ya sobat.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Gimana hukumnya membacakan Al- Qur’ an buat mayit, triknya: Dengan meletakkan sebagian buah mushaf dalam rumah, kemudian tiba para orang sebelah ataupun kenalan, tiap- tiap membaca satu juz misanya, setelah itu kembali bekerja semacam biasa, tanpa diberi upah sedikitpun. Usai membaca Al- Qur’ an, tiap- tiap berdo’ a buat sang mayit, serta menghadiahkan pahala teks Al- Qur’ an tersebut kepadanya. Apakah teks serta do’ a tersebut hendak hingga kepada mayit serta ia diberi pahala karenanya ataupun enggak? Kami mau uraian, Terima kasih. Butuh dikenal, kalau kami sempat mendengar sebagian ulama melaporkan keharamannya secara absolut, sedangkan sebagian yang lain melaporkan makruh, apalagi sebagian lain memperbolehkan.



Hukum Membaca Al-Qur’an Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal – Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Gimana hukumnya membacakan Al- Qur’ an buat mayit, triknya: Dengan meletakkan sebagian buah mushaf dalam rumah, kemudian tiba para orang sebelah ataupun kenalan, tiap- tiap membaca satu juz misanya, setelah itu kembali bekerja semacam biasa, tanpa diberi upah sedikitpun. Usai membaca Al- Qur’ an, tiap- tiap berdo’ a buat sang mayit, serta menghadiahkan pahala teks Al- Qur’ an tersebut kepadanya. Apakah teks serta do’ a tersebut hendak hingga kepada mayit serta ia diberi pahala karenanya ataupun enggak? Kami mau uraian, Terima kasih. Butuh dikenal, kalau kami sempat mendengar sebagian ulama melaporkan keharamannya secara absolut, sedangkan sebagian yang lain melaporkan makruh, apalagi sebagian lain memperbolehkan.

Baca Juga : Kelebihan Aplikasi Juz Amma Bebasis AlQur’an


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jawaban

Perbuatan tersebut serta yang sejenisnya enggak mempunyai dasar sama sekali, serta enggak sempat diriwayatkan secara legal dari Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam ataupun dari para teman dia kalau mereka membacakan Al- Qur’ an buat orang yang telah wafat dunia. Apalagi Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda.

“ Barangsiapa yang melaksanakan sesuatu amal ibadah tanpa perintah dari kami, hingga amalannya tersebut tertolak”.

Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih- nya, pula diriwayatkan oleh Al- Bukhari secara mu’ allaq dalam Shahih- nya, tetapi dengan statment tegas( jazm). Sedangkan dalam Shahih Al- Bukhari serta Muslim diriwayatkan dari Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam kalau dia bersabda.

???????????????????????????????????????????????????????

“ Barangsiapa membuat- buat sesuatu amalan dalam agama kami ini yang bukan tercantum penggalan dari agama tersebut, hingga amalannya itu tertolak”.

Sedangkan dalam Shahih Muslim, dari Jabir diriwayatkan kalau Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam sempat mengatakan dalam khutbah jum’ at.

“ Amma ba’ du.“ Sebetulnya perkataan tersadu merupakan Kitabullah serta petunjuk tersadu merupakan petunjuk Muhammad. Perihal terburuk merupakan yang dibuat- buat( bid’ ah), serta tiap bid’ ah merupakan sesat” An- Nasa- i meningkatkan dengan sanad shahih:

Serta tiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.

Ada pula sedekah buat orang mati serta mendo’ hendak mereka, tentu mampu berguna serta pahalanya mampu hingga kepada mereka bersumber pada ijma kalangan muslimin. Cuma Allah yang mampu membagikan taufiq serta jadi sandaran untuk kita.

[Disalin dari kitab Al- Fatawa Juz Awwal, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Eidisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At- Tibyan– Solo]

MENGERASKAN Teks AL- QUR’ AN PADA MAYAT

Oleh

Syaikh Shalih bin Fauzan Al- Fauzan

Pertanyaan

Syaikh Shalih bin Fauzan Al- Fauzan ditanya: Kala seorang wafat, orang- orang membacakan Al- Qur’ an dengan pengeras suara di rumah duka, serta kala mayat itu dibawa oleh mobil jenazah, mereka memasangkan pengeras suara, dengan demikian orang yang mendengar teks Al- Qur’ an itu mengenali kalau di situ terdapat kematian, dampaknya seakan merasa sial sebab mendengar teks Al- Qur’ an, serta akibat lain- nya, Al- Qur’ an itu enggak dibuka kecuali kala terdapat seorang yang wafat. Apa hukum perbuatan ini, serta gimana mengantarkan nasehat kepada orang- orang yang semacam itu?

Jawaban

Enggak diragukan lagi kalau perbuatan ini bid’ ah, sebab enggak sempat dicoba pada masa Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam, serta enggak pula pada masa para teman dia. Sebetulnya Al- Qur’ an itu dapat menawar kedukaan bila dibaca semacam biasa, enggak dengan memakai pengeras suara.

Lain dari itu, berkumpulnya keluarga sang mayat buat menyongsong orang- orang yang mengucapkan bela sungkawa, enggak sempat diketahui. Apalagi sebagian ulama menyatakannya bagaikan perbuatan bid’ ah. Sebab itu kami enggak menyarankan keluarga sang mayat berkumpul buat menerima perkataan bela sungkawa, tetapi sebaiknya menutup pintu mereka. Tetapi bila terdapat seorang yang bertemu di pasar, semisal, ataupun kebetulan terdapat seseorang kenalan yang tiba berkunjung kemudian mengucapkan bela sungkawa, hingga perihal ini enggak apa- apa.

Ada pula terencana menyongsong orang- orang, perihal ini enggak sempat diketahui pada masa Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam, apalagi para teman menyangka kalau berkumpulnya keluarga sang mayat serta membikin santapan tercantum meratapi kematian, sementara itu meratapi kematian itu tercantum perbuatan berdosa besar, sebab Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam sudah melarang orang yang meratapi mayat serta memperdengarkan ratapannya, dia bersabda.


??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

“ Perempuan yang meratapi kematian, bila dia enggak bertaubat saat sebelum kematiannya, hingga pada Hari Kiamat nanti dia hendak diberdirikan sedangkan di atasnya besi panas serta pakaian koreng.”[1]

Kita meminta kepada Allah hendak dijauhkan dari perihal ini.

Nasehat aku buat saudara- saudara aku, sebaiknya meninggalkan perkara- perkara baru ini, sebab meninggalkannya lebih utama di sisi Allah serta lebih utama untuk sang mayat itu seorang diri, karena Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam sudah mengabarkan, kalau mayat itu disiksa sebab tangisan serta ratapan keluarganya terhadap kematiannya. Artinya disiksa ini merupakan mengidap kesakitan akibat tangisan serta ratapan tersebut, tetapi enggak disiksa semacam siksaan untuk pelakunya, Allah

” Serta orang- orang yang berdosa enggak hendak memikul dosa orang lain.”[Fathir/ 35: 18]

Siksaan yang diartikan dalam hadits tadi bukan balasan, dalam suatu hadits Nabi Shallallahu‘ alaihi wa sallam mengatakan,

“ Ekspedisi( safar) merupakan penggalan dari adzab.”[2]

Ialah kalau penderitaan, kedukaan serta sejenisnya dikatagorikan adzab. Contoh kalimat yang biasa dilontarkan,‘ Saya di adzab oleh perasaanku seorang diri.’

Akhirnya, aku nasehatkan kepada saudara- saudaraku, buat menghindari kebiasaan- kebiasaan tersebut yang cuma menaikkan jauhnya diri dari Allah serta menaikkan penderitaan untuk yang wafat.

[Fatawa Al- Fauzan, Nur‘ Ala Ad- Darb, juz 2, disusun oleh Fayiz Musa Abu Syaikhah]

[Disalin dari novel Al- Fatawa Asy- Syar’ iyyah Fi Al- Masa’ il Al- Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al- Balad Al- Haram, edisi Indonesia Fatwa- Fatwa Terbaru, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

[1]. Penggalan dari hadits yang dlkeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al- Masajid( no 934).

[2]. Penggalan dari hadits yang keluarkan oleh Imam Al- Bukhari dalam Al-‘ Umrah( no 1804). Muslim dalam Al- Imarah( no 1927).